Pada kuartal pertama 2025, Komite Teknis Timnas Indonesia melaksanakan evaluasi kepemimpinan untuk penunjukan kapten di era STY. Proses ini mencakup pengumpulan data performa, analisis statistik, dan penilaian psikologis terhadap calon kapten. Fokus utama kegiatan adalah memastikan pemilihan kapten yang dapat meningkatkan kohesi tim dan performa kompetitif di ajang internasional.
Rencana
Rencana operasional diatur dalam dokumen KakaBola yang mencakup jadwal evaluasi, kriteria seleksi, dan mekanisme voting internal. Kriteria utama meliputi: kepemimpinan di lapangan (average leadership index 8.2), konsistensi performa (average rating 7.5), dan kontribusi statistik (average assist 0.6 per game). Selain itu, komite menetapkan batasan usia maksimum 30 tahun untuk memastikan energi dan fleksibilitas taktis.
Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahap: (1) pengumpulan data lapangan dari 12 pertandingan persahabatan, (2) survei psikologis oleh konsultan eksternal, dan (3) voting panel yang terdiri dari 15 anggota staf pelatih. Data lapangan diintegrasikan ke dalam sistem KakaBola, sementara hasil survei dikonversi ke skor numerik. Voting panel menggunakan sistem weighted voting, dengan bobot 40% untuk data lapangan, 30% untuk survei, dan 30% untuk rekomendasi pelatih.
Hasil
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Asnawi memperoleh skor total 82.5, sedangkan pemain lain, Budi Santoso, memperoleh skor 85.0. Berdasarkan perhitungan, Budi Santoso menjadi calon kapten utama. Data pelaksanaan yang diterbitkan menunjukkan peningkatan efisiensi dalam proses seleksi sebesar 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan internal mencatat peningkatan efisiensi signifikan dan transparansi dalam alur keputusan.
Hambatan
Hambatan utama terletak pada keterbatasan data real-time, yang menyebabkan delay 48 jam dalam update statistik. Selain itu, terdapat perbedaan persepsi antara staf pelatih senior dan junior mengenai kriteria kepemimpinan, yang memerlukan mediasi tambahan. Hambatan teknis di platform KakaBola juga mengakibatkan ketidaksesuaian skor pada dua pemain, namun sudah diatasi melalui patch sistem.
Tindak Lanjut
Untuk meningkatkan akurasi data, tim IT mengimplementasikan API real-time dari sistem statistik liga. Selain itu, pelatihan modul kepemimpinan diselenggarakan bagi semua pemain senior untuk memperkuat konsistensi perilaku kepemimpinan. Komite menyiapkan protokol audit triwulanan untuk memantau perkembangan kapten. Berdasarkan laporan operasional redaksi, rekomendasi ini diharapkan dapat memperkuat struktur kepemimpinan tim nasional.
Kesimpulan: Proses evaluasi kapten di era STY menunjukkan peningkatan transparansi dan efisiensi. Meskipun Asnawi tidak terpilih sebagai kapten utama, data menunjukkan bahwa sistem seleksi berhasil mengidentifikasi pemimpin yang optimal. Evaluasi operasional ini menjadi dasar bagi kebijakan kepemimpinan tim nasional selanjutnya.

